Bapakku yang tersayang,
Hari ini, waktu aku melihat dinding ruang keluarga kita yang baru saja diganti wall paper-nya, aku jadi teringat dengan rumah kita di Johar dulu. Rumah yang penuh dengan cerita-cerita lucu ya, Pak. Tentang lantai kamar mandi yang selalu dipenuhi dengan cacing tanah, tentang lauk indomie goreng dan indomie rebus yang kita bagi berdua, tentang tukang kembang tahu yang kedatangannya selalu kita tunggu2, supaya bisa kita minta tolong dia untuk mendorong mobil tua kita yang mogok dan tidak mau di-stater. Bapak pasti masih ingat, di rumah kecil itu kita menghabiskan 1 tahun pertama pernikahan kita. Dengan banyak tawa dan juga air mata.
Suatu hari, aku pernah meminta Bapak untuk pergi ke warung dan membeli sebungkus detergen. Dan betapa kagetnya aku, waktu beberapa menit kemudian Bapak pulang dengan membawa sekaleng sarden.
“Lho, sabun cuci nya mana, Pak?”
“Maaf, Bu. Tadi sabun cucinya kosong, aku malu kalau ga beli apa2 di warung. Jadi aku beli sarden aja yang kebetulan keliatan….”
Sekarang kalau aku mengingat kejadian itu, rasanya tidak bisa berhenti tertawa. Tapi waktu itu, rasanya ingin sekali menangis. Bapak kok tega-teganya membelanjakan uang kita yang pas-pas an itu buat beli sesuatu yang kita tidak perlukan. Kalau hari itu kita makan sarden, lalu dengan apa aku harus mencuci semua baju kotor kita?
Pernah juga, aku merasa begitu tertekan, sedih dan cemburu. Saat Bapak masih menerima telpon dari mantan pacar Bapak. Waktu itu Bapak bilang, masih ada urusan pekerjaan yang belum tuntas. Bapak memintaku untuk percaya dan tidak berpikiran macam-macam. Tetap saja aku merasa sangat cemburu. Juga saat Bapak memintaku untuk tidak menceritakan tentang kehamilanku kepada adik laki-lakimu, karena Bapak tidak ingin dia cemburu, aku merasa amat sedih.
Banyak sekali kejadian yang dulu terasa seperti derita, tapi sekarang justru kita syukuri luar biasa. Seperti kejadian kita yang dahsyat dan ajaib, Tuhan selalu memelihara kita dengan caraNya yang luar biasa. Hari-hari kita selalu dipenuhi dengan berkat dan keajaiban-keajaiban. Bukan begitu, Pak?
Salah satu keajaiban terbesar dalam hidupku, Pak, adalah saat Tuhan memberikan Bapak dalam hidupku. Ingat waktu kita pertama kali bertemu dulu, Pak? Rasanya tidak mungkin saat ini kita duduk berdua sebagai sepasang suami istri ya? Bapak suka dengan perempuan feminim yang selalu berdandan rapih. Sementara aku hampir tidak pernah mengenakan rok dan hanya menyisir rambut sekali sehari saja. Bapak selalu menyusun buku-buku di rak dengan urutan yang sangat teratur, sementara aku selalu memenuhi tas kerjaku dengan berbagai sampah, mulai dari bon belanja, sampai peniti dan kaus kaki. Aku adalah tipe orang yang selalu berlari ke sana kemari, berusaha meraih dan mengerjakan sebanyak mungkin pekerjaan. Sementara Bapak sangat menikmati saat duduk-duduk sambil membaca koran pagi dan menghirup secangkir kopi. Dan sekarang, kita jadi suami istri. Bukankah itu ajaib ya, Pak…
Bapakku yang paling hebat di dunia,
Aku tidak pernah berhenti bersyukur dengan pernikahan kita, Pak. Tuhan pasti sudah memilihkan Bapak, untuk mengisi semua kekosongan dan kekurangan dalam hidupku. Saat aku merasa sendirian, Bapak selalu ada untuk menemani aku. Saat aku bingung dan tidak tau harus berbuat apa, Bapak selalu bisa jadi konselor yang andal. Yang bukan cuman memberikan masukan, tapi juga banyak alternatif solusi. Waktu aku ingin cerita, Bapak akan dengan rela duduk mendengarkan, walaupun kadang terpaksa disambi kerja dan berjibaku dengan blackberry kesayangan Bapak. Waktu aku kesakitan, Bapak selalu siap mencarikan penawar rasa sakit itu. Dan waktu aku lapar, bapak selalu bersedia menemaniku makan bersama…
Aku selalu merasa bangga dan senang, tiap kali Bapak menggandeng tanganku saat kita berjalan bersama. Apalagi saat aku mengandung ketiga anak kita. Dengan berat badan hampir 1 kwintal, penampilanku pasti sudah sangat tidak keruan. Bukan hanya perutku saja yang buncit, bahkan jari-jari tangan dan hidungku juga sudah jauh melampui ukuran normalnya. Tapi Bapak selalu dengan senang hati menggenggam tanganku ke mana pun kita pergi. Bahkan di saat penampilanku yang paling buruk sekalipun, Bapak tetap memperlakukan aku seperti ratu. Terima kasih ya, Pak…
Bapakku yang luar biasa,
Aku juga masih ingat, waktu aku sedang mengandung Bianca, anak pertama kita dulu, pre-eclampsia telah membuat kedua kakiku bengkak luar biasa. Kondisinya yang selalu lembab, membuat banyak timbul luka di sela-sela jari kakiku. Aku sendiri merasa sedikit jijik dengan luka-lukaku sendiri, tetapi Bapak dengan sangat sabar dan telaten, berulang kali membersihkan luka-luka itu. Aku yakin, tidak semua orang mau melakukan itu.
Bapak juga selalu berusaha menyenangkan hatiku. Bahkan di saat-saat yang paling sulit dalam hidup kita. Aku masih ingat, bertahun-tahun yang lalu, Bapak membeli sebuah es krim cone dan sebungkus biskuit, menyusunnya di atas sebuah piring kecil, meletakkan sebuah lilin di tepinya, dan memberikannya kepadaku tepat di malam ulang tahunku. Walaupun bentuknya tidak biasa, tapi itu adalah kue ulang tahun terindah yang pernah aku terima seumur hidupku…
Bapakku yang baik,
Sebelas tahun kita sudah berjalan bergandengan tangan, berbagi makanan dari piring yang sama, berbagi malam dan siang, berbagi tawa dan air mata. Tiga orang anak yang hebat dan luar biasa sudah Tuhan percayakan kepada kita. Kehidupan yang berlimpah berkat dan kemurahan sudah Tuhan anugerahkan kepada kita. Tidak ada alasan buat kita untuk mengeluh dan tidak bersyukur ya, Pak?
Bapakku yang kekasih,
Aku yakin, masih ada banyak tahun lagi yang akan kita jalani bersama. Ada banyak tantangan yang menunggu kita di depan. Tapi pasti juga ada banyak suka cita yang tersebar di mana-mana. Menyaksikan ketiga anak kita, Bianca, Benaia dan Benezra tumbuh besar dan dewasa. Berkeliling dunia berdua dengan sepatu boot dan mantel panjang. Mengantar cucu-cucu kita ke sekolah. Beranjak tua bersama. Bukankah semua itu indah ya, Pak?
Bapakku yang tercinta,
Selalulah menjadi teman, kekasih dan sahabat bagiku. Sepanjang hidupku. Karena engkau adalah hadiah Tuhan yang terbaik dalam hidupku.
Pak, tolong simpan surat cintaku ini, ya… Sekarang aku harus berhenti menulis dulu, ada tiga boss kecil yang sebentar lagi kelaparan kalau aku telat masak. Suatu hari nanti, aku akan membuat surat cinta yang lain buat Bapak. Till then, please take a really good care of yourself.
I love you.
Jakarta, 9 Oktober 2011.
Ditulis buat acara Talk Show Pasutri
Bulan Keluarga, GKI Cawang